<!— /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Helvetica; panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:536902279 -2147483648 8 0 511 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”“; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.2pt 841.8pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} —>
Cinta Segelas Kopi
Kala itu aku meminum segelas kopi
segelas kopi biasa
kopi rakyat jelata
bukan kopi serba mahal ala restoran
bukan pula kopi borjuis ala anak muda-anak muda
kopi ini hanya kopi biasa
bubuk kopi di warung depan
cuma pakai gula biasa
bukan madu putih ala orang kaya
cuma gula pasir di kedai pojok
Tidak perlu tertawa
Masalah rasa kopi ini tiada dua
boleh kau adu sama kopi mana saja
aku yakin kopiku juaranya
Sekarang aku yang tertawa,
kopi ini membuat aku ingat padanya
dia kekasihku yang sedang jauh di sana
aku dan dia
terkadang bagai gula dan kopi
kami hanyalah manusia biasa saja
seperti bubuk kopi warung depan dan gula pasir kedai pojok
kami cuma manusia biasa jika kami terpisah
tapi coba kau campur bubuk itu dengan gulanya
hmm…
harmoni yang akan kau rasa
harmoni yang terasa kala ku bersamanya
harmoni saling melengkapi
harmoni cinta
apapun, kopi itu bukan kopi istimewa
hanya kopi biasa
yah seperti kami..
cinta kami bukanlah cinta serba istimewa ala anak muda
cinta kami hanyalah cinta sederhana
cinta yang saling memandang lalu tersenyum malu
cinta yang berkata “apa iya??”
cinta yang berkata ” lucu dari mana ?”
masalah merk kami boleh kalah..
tapi masalah cinta kami siap diadu..
demi cinta segelas kopi
Surabaya, 31 Agustus 2009
8:46 PM
di depan komputer di temani segelas kopi biasa